Dengarkan Ibumu

Tiba tiba penglihatan berubah menjadi hitam dan tak tahu apa yang terjadi lagi.

Ketika ku tersadar, aku sudah berada di sebuah ruangan. Sepertinya ini rumah sakit atau mungkin puskesmas. Aku melihat seseorang tengah duduk tak jauh dari tempatku terbaring.

Aku berusaha untuk duduk, seketika dia mendekatiku dan berkata

“Kamu udah sadar, Alhamdulillah”

Yang ku lihat adalah seorang perempuan dengan hijab berwarana pink sambil tersenyum kepadaku. Senyum yang manis. Dan aku tidak mengenalnya.

Perempuan itu langsung menjelaskan kenapa aku berada disini.

“Kamu terjatuh dari motor dan nggak sadarkan diri. Karena kamu jatuh tepat di depan mobilku jadi aku membawamu ke sini. Motormu aku titipkan di warung di dekat sana.”

“Makasih ya”

“Sama sama. Sebagai sesama kita harus saling menolong, iya kan?” Perempuan itu kembali memancarkan senyum manisnya untuk kedua kalinya.

“Iya. Sekali lagi aku berterima kasih.”

Ku perhatikan tangan dan kakiku apakah ada yang luka. Alhamdulillah tidak apa apa.

Perempuan itu kembali berbicara. ” Oh ya, aku keluar sebentar. Mau melapor bahwa kamu udah sadar. Karena dokter bilang tadi ketika kamu udah sadar dan kamu sudah boleh pulang.”

“Ok deh.”

~.~

Setengah jam yang lalu. Aku pamit sama ibu untuk berangkat ke Padang. Tapi ibu melarangku karena aku belum makan dari pagi padahal udah hampir jam tiga.

“Lebih baik kamu makan dulu Fajri” kata ibu.

“Nanti aja bu pas sampai di Padang.”

Aku bergegas mengambil tas, memakai sepatu dan pergi mengendarai motor menuju ke padang. Walaupun sudah diingatkan ibu tetapi aku tetap saja bersikukuh untuk berangkat waktu itu juga.

~.~

“Sebaiknya aku dengarkan kata ibu tadi. Jadi nggak bakalan seperti ini. Tapi walau bagaimanapun ini sudah terjadi” fikirku di dalam hati.

Beberapa  menit setelah perempuan itu pergi, seorang perawat memasuki ruangan. Tapi aku tidak melihat perempuan dengan senyum yang manis tadi.

“Kata dokter, adek udah boleh pulang. Silahkan menyelesaikan administrasinya di bagian administrasi di depan.”

“Ok, makasih buk.”

Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kursi tempat duduk perempuan tadi. Disana ada semua perlengkapan berkendara tadi beserta sepatuku.

Setelah ku memasang sepatu, aku bergegas menuju bagian administrasi untuk membayar administrasi. Sesampai disana aku kembali melihat perempuan tadi. Ternyata dia belum pulang. Ia sedang menelfon.

Aku berjalan menuju administrasi. Sesampai didepan bagian administrasi, pegawai bagian administrasi langsung berkata

“Bapak Fajri kan? Sudah ada yang bayar.”

“Siapa Buk?”

“Adek yang sedang menelfon itu.”

“Makasih ya buk.”

Aku berjalan menuju ke dekat perempuan yang berbaik hati membayarkan biayaku disini.

Di dalam hati aku berkata “Ternyata jaman sekarang ini masih ada perempuan cantik, baik lagi.”

Tiba perempuan itu sudah berada didepanku dan tidak lagi dalam keadaan sedang menelfon. Aku kembali mengucapkan terima kasih kepadanya sambil memperkenalkan diri.

“Makasih sekali lagi. Oh ya namaku”

“Fajri kan? Namaku Ayu. Tadi aku melihat KTP mu untuk mendaftakan perawatan disini tadi. Maaf ya udah lancang.”

“Nggak apa-apa kok.”

Kami mengombrol sambil jalan menuju ke luar. Sebelum berpisah kami bertukar no telfon.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s